Minggu, 27 November 2011

tips penyelamatan laptop bila terkena air

Diposting oleh Debby An Pratama S. di 01.10 0 komentar
Mengingat Laptop sudah menjadi kebutuhan hampir semua orang, portable computer ini tidak lagi hanya digunakan kalangan IT, tetapi hampir semua kalangan, baik itu ibu rumah tangga, pelajar maupun anak-anak dibawah umur.

Situasi ini mempertinggi terjadinya kecelakaan pada saat pengoperasian laptop, bahkan seorang yang profesional pun tidak luput dari kecelakaan pemakaian pada saat kelelahan ataupun akibat terbaginya konsentrasi ke banyak hal dan akhirnya membuat pengguna lengah terhadap hal-hal yang membahayakan laptop.

Berdasarkan kasus yang sering ditemukan banyak kecelakaan pada laptop yang berakibatkan mati total atau korsleting diakibatkan laptop ketumpahan cairan seperti air, kopi, teh, kuah ataupun cairan lainnya.

Perlu kita ketahui bahwa cairan dapat menghantarkan listrik, sehingga pada saat laptop ketumpahan cairan, hubungan positif dan negatif bisa bersatu yang mengakibatkan short sehingga dapat merusak komponen disekitar korsleting terjadi.

Biasanya yang diserang adalah komponen power. Korsleting atau short hanya dapat terjadi pada saat komponen dialiri listik (dalam keadaan hidup) jadi kemungkinan terjadinya korsleting atau short pada saat laptop dalam keadaan mati sangat kecil sekali.


Berikut tindakan pertama yang harus dilakukan pada saat laptop ketumpahan cairan :

1. Lepaskan baterai dan jack power apabila laptop dalam keadaan hidup. Buka flip LCD sampai maksimal terbuka lalu posisikan laptop tertelungkup / terbalik. Biarkan beberapa jam atau lebih lama lebih baik. sehingga cairan yang sudah terlanjur masuk mengalir keluar.

2. Lepaskan keyboard, jemurlah keyboard ditempat yang tidak terlalu panas dalam keadaan terbalik. Jika cairan yang tumpah berupa kopi (yang lengket), kuas selah-selah keyboard dengan menggunakan air, namun jangan ditekan.

Kemudian jemurlah seperti cara diatas beberapa jam lalu blower dengan menggunakan kipas angin satu malam. Pada saat proses pengipasan tekan-tekanlah setiap tuts untuk menghindari adanya uap yang tertinggal pada fleksibel yang menyebabkan keyboard lengket.

3. Blower bagian laptop dalam posisi berdiri menyamping.dengan posisi fentilasi fan dibagian bawah untuk meyakinkan sisa-sisa cairan dapat keluar dari fentilasi tersebut.

Catatan : jika tumpahan terlalu banyak sebaiknya seluruh bagian laptop dibuka dan dikeringkan.jika Anda tidak yakin dapat melakukannya sendiri sebaiknya menghubungi service centre terdekat.

4. Pasang kembali semua bagian, tanpa mengunakan baterai, sambungkan listrik dari adapter, jangan langsung dihidupkan, perhatikan gejala-gejala yang timbul. Dekatkan penciuman Anda ke laptop, jika mencium sesuatu yang berbau hangus, lepaskan koneksi power.

Bblower kembali seperti tahapan diatas untuk beberapa waktu.semakin lama semakin baik. Kemudian ulangi tahapannya. Apabila sudah tidak ada indikasi bau ataupun hal hal yang mencurigakan, lepaskan hubungan listrik kemudian pasang baterai.

Lihat reaksinya, jika tidak ada indikasi yang mencurigakan, sambungkan listrik dan perhatikan Lead lampu baterai indikator menyala atau tidak, jika menyala hidupkan laptop Anda dan tetap memperhatikan bau atau indikasi lainnya untuk beberapa saat.

5. Jika ternyata masih ada indikasi yang mencurigakan (tidak seperti biasanya), sebaiknya menghubungi service centre terdekat untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.

kaos instan, di rebus jadi kaos

Diposting oleh Debby An Pratama S. di 01.03 0 komentar
Jepang memang terkenal sebagai gudang nya teknologi. Tidak lama ini, Jepang menciptakan kaos instan dengan teknologi mie instan (lho, kok kayak mi instan?). Kaos instan ini prinsipnya memang sama seperti mi instan lho.

Kaos ini aslinya berukuran sangat mini, tetapi begitu direndam di air, ukuran nya akan menjadi normal. Cocok sekali untuk dibawa berpergian, jadi tidak perlu lagi bawa-bawa tas besar.

Kamis, 17 November 2011

Benteng Fort de Kock

Diposting oleh Debby An Pratama S. di 17.24 0 komentar
Fort de Kock didirikan pada 1825 oleh Kapten Bauer di Jirek Gunung Luar, Bukit Tinggi. Sampai saat ini, Benteng Fort de Kock masih menjadi saksi bangga dari aturan kolonial Belanda pada waktu itu untuk orang Minangkabau dan angkuh masih tetap implisit dalam gedung 20 meter-tinggi dengan cat putih dan warna hijau ini.
Fort de Kock adalah dilengkapi dengan meriam kecil di empat penjuru. Kawasan sekitar benteng telah dipulihkan oleh pemerintah daerah menjadi sebuah taman dengan pohon-pohon rindang dan banyak mainan anak-anak.Benteng yang terletak di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukit Tinggi terletak di lokasi yang sama dengan Kebun Binatang Bukit Tinggi dan Museum Rumah Adat Baanjuang. Kawasan benteng terletak di atas bukit sebelah kiri area pintu masuk sementara kebun binatang dan museum rumah gadang berbentuk terletak di sebuah bukit di sebelah kanan.
Keduanya dihubungkan oleh sebuah jembatan Limpapeh yang di bawahnya adalah jalan raya di kota Bukit Tinggi. Memang daerah ini terletak hanya 1 km dari pusat kota Bukit Tinggi di daerah Clock Tower, tepatnya di saluran jalan Tuanku nan Renceh. Bukit Tinggi sendiri dapat ditempuh sekitar dua jam dari kota Padang sebagai ibukota provinsi Sumatera Barat.


 Dengan membayar retribusi sebesar Rp 5.000, melihat benteng, menyeberangi jembatan dengan pemandangan panorama, memeriksa berbagai satwa liar dan belajar sejarah di museum dapat dinikmati juga. Rumah Baanjuang Tradisional Khusus masuk, pengunjung harus membayar kembali biaya masuk sebesar Rp 1.000 per orang. Tempat ini sering digunakan sebagai piknik keluarga atau tujuan kelompok untuk TK dan siswa SD untuk mengetahui alam, sejarah dan budaya juga.
Sejumlah pengunjung bahkan tampak senang hanya menikmati keteduhan di sekitar Fort Fort de Kock setelah membaca penjelasan sedikit tentang sejarah benteng. Hal ini ditulis dalam sebuah piagam sekitar 10 meter di depan benteng yang ditandatangani oleh Walikota Bukit Tinggi H. Djufri ketika diresmikan sebagai tempat wisata pada tanggal 15 Maret 2003. Berikut sedikit penjelasan tentang Benteng Fort de Kock.
Fort de Kock didirikan oleh Kapten Bauer pada tahun 1825 di negara Jirek Gunung Bukit Tinggi sebagai benteng pemerintah Hindia Belanda dari orang-orang dalam menghadapi oposisi yang dipimpin oleh Perang Padri Tuanku Imam Bonjol.
Ketika Baron Hendrick Markus de Kock menjadi Komandan de Roepoen dan Wakil Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda. Dari lokasi ini adalah di mana nama menjadi Benteng Fort de Kock.
Bukit Tinggi udara dingin dapat membuat pengunjung yang datang ke lupa waktu. Terutama ketika melihat Ngarai Sianok kecantikan, Gunung Singgalang, Gunung Pasaman dan juga kota dari atas Jembatan Limpapeh Bukit Tinggi. Lalu terus berjalan untuk melihat hewan yang berbeda dan mampi sebentar di Rumah Tradisional Baanjuang untuk menambah sedikit wawasan tentang budaya Minangkabau.
Di dalam bangunan yang sengaja dibangun pada tahun 1930 oleh seorang Belanda, Mr Tersimpan Kontrolir berbagai benda khas Mandelar Minangkabau, seperti pakaian adat, tanduk kerbau dan peralatan nelayan tradisional. Di tempat ini, pengunjung juga dapat mengambil gambar di jembatan serta dengan pakaian tradisional Minang hanya dengan membayar Rp 2500-Rp 5000.
Benteng Fort de Kock arogansi juga tercatat dalam berbagai souvenir yang dijual di warung-warung di luar kawasan wisata, seperti T-shirt, gantungan kunci dan tas khas Minangkabau. Sayangnya tampaknya, jika rumah tanpa kenangan khusus tentang Benteng Fort de Kock.


Fort de Kock was founded in 1825 by Captain Bauer at the Mount Jirek Affairs, Bukit Tinggi. Until today, Fort Fort de Kock is still a proud witness of the Dutch colonial rule at that time to the Minangkabau and swagger still remains implicit in the 20-meter-high building with white paint and green colors of this.

Fort de Kock is equipped with a small cannon at the four corners. Regions around the fort has been restored by local governments into a garden with shady trees and lots of children's toys.
The fortress is located at the Wildlife Park and Cultural Kinantan Bukit Tinggi is located in the same location with the High Hill Zoo and the Museum of Traditional House Baanjuang. Regions fort situated on a hill left of the entrance area while the zoo and museums gadang shaped house is situated on a hill on the right.

Both are connected by a bridge Limpapeh beneath which is a highway in the town of Bukit Tinggi. Indeed this region is located only 1 km from the center of Bukit Tinggi in the Clock Tower area, precisely in the canal road Renceh Tuanku nan. Bukit Tinggi itself can be taken about two hours from the city of Padang as the capital of West Sumatra province.

By paying a levy of Rp 5,000, saw the castle, cross the bridge with panoramic views, examining a variety of wildlife and learn history at the museum can be enjoyed as well. Traditional House Special Baanjuang entering, visitors must pay back entrance fee of Rp 1,000 per person. This place is often used as a family picnic or group goals for kindergarten and elementary school students to know the nature, history and culture as well.

A number of visitors even seemed happy just enjoying the shade around Fort Fort de Kock after reading the little explanation about the history of the fortress. It is written in a charter of about 10 meters in front of the castle which was signed by Mayor H. Bukit Tinggi Djufri when inaugurated as a tourist place on March 15, 2003. Here's a little explanation about the Fort Fort de Kock.

Fort de Kock was founded by Captain Bauer at the year 1825 at the Mount Jirek Bukit Tinggi country as the Netherlands East Indies government fortifications of the people in the face of opposition led by the Padri War Tuanku Imam Bonjol.

When the Baron Hendrick Mark de Kock became Commandant de Roepoen and Deputy Governor General of the Government of the Netherlands East Indies. From this location is where the name became Fort Fort de Kock.

Bukit Tinggi cool air can make the visitors who come to forget time. Especially when looking at the beauty Sianok Gorge, Mount Singgalang, Mount Pasaman and also the city from the top of Bukit Tinggi Limpapeh Bridge. Then keep walking to see different animals and mampi briefly in the House of Traditional Baanjuang to add a little insight about the culture of the Minangkabau.

In the building is deliberately built in 1930 by a Dutchman, Mr. Saved Controleur Mandelar various typical Minangkabau objects, such as custom clothing, buffalo horn and traditional fishing equipment. In this place, visitors can also take pictures on the bridge as well as with traditional outfit Minang only by paying USD 2500-USD 5000.

Fort Fort de Kock arrogance also recorded in a variety of souvenirs that were sold in stalls outside the tourist areas, such as T-shirts, keychains and bags distinctive Minangkabau. Unfortunately it seems, if the home without any special memories about the Fort Fort de Kock.

Selasa, 15 November 2011

history of Bukittinggi

Diposting oleh Debby An Pratama S. di 02.46 0 komentar
Kota ini memiliki asal-usul di lima desa yang berfungsi sebagai dasar untuk pasar.
Kota ini dikenal sebagai Fort de Kock pada zaman kolonial dalam referensi ke pos Belanda didirikan di sini pada 1825 selama Perang Padri. Benteng ini didirikan oleh Kapten Bauer di puncak bukit Jirek dan kemudian dinamai kemudian Letnan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda, Hendrik Merkus de Kock. Jalan pertama yang menghubungkan daerah dengan pantai barat dibangun antara 1833 dan 1841 melalui Gorge Anai, mengurangi pergerakan pasukan, memotong biaya transportasi dan memberikan stimulus ekonomi bagi perekonomian pertanian. Pada tahun 1856 sebuah perguruan tinggi pelatihan guru (Kweekschool) didirikan di kota, yang pertama di Sumatera, sebagai bagian dari kebijakan untuk memberikan kesempatan pendidikan bagi penduduk pribumi [4]. Sebuah jalur rel yang menghubungkan kota dengan Payakumbuh dan Padang dibangun antara 1891 dan 1894.
Selama pendudukan Jepang di Indonesia dalam Perang Dunia II, kota itu merupakan kantor pusat untuk Angkatan Darat Jepang ke-25, kekuatan yang diduduki Sumatera. Kantor pusat dipindahkan ke kota pada bulan April 1943 dari Singapura, dan tetap sampai Jepang menyerah pada Agustus 1945.Masjid di pusat kota Bukittinggi
Selama Revolusi Nasional Indonesia, kota itu merupakan kantor pusat untuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dari 19 Desember 1948 untuk 13 Juli 1949. Selama pasukan Belanda 'Polisi Aksi' kedua menyerang dan menduduki kota itu pada tanggal 22 Desember 1948, setelah sebelumnya dibom dalam persiapan. Kota itu menyerah kepada pejabat Republik pada Desember 1949 setelah pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.
Kota ini secara resmi berganti nama Bukittinggi pada tahun 1949, menggantikan nama kolonialnya. Dari 1950 sampai 1957, Bukittinggi adalah ibu kota dari provinsi disebut Sumatera Tengah, yang meliputi Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Pada bulan Februari 1958, selama pemberontakan di Sumatera melawan pemerintah Indonesia, pemberontak memproklamirkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Bukittinggi. Pemerintah Indonesia telah merebut kembali kota pada Mei tahun yang sama.
Sekelompok pria Muslim telah merencanakan untuk membom sebuah kafe di kota yang sering dikunjungi oleh wisatawan asing pada Oktober 2007, namun rencana itu dibatalkan karena risiko membunuh individu-individu Muslim di sekitarnya. Sejak 2008, pemerintah kota telah melarang Hari Valentine dan perayaan Tahun Baru karena mereka menganggap mereka tidak sejalan dengan tradisi Minangkabau atau Islam, dan dapat menyebabkan "tindakan tidak bermoral" seperti pasangan muda berpelukan, berciuman dan belum lagi berzina.






The city has its origins in five villages which served as the basis for a marketplace.

The city was known as Fort de Kock during colonial times in reference to the Dutch outpost established here in 1825 during the Padri War. The fort was founded by Captain Bauer at the top of Jirek hill and later named after the then Lieutenant Governor-General of the Dutch East Indies, Hendrik Merkus de Kock. The first road connecting the region with the west coast was built between 1833 and 1841 via the Anai Gorge, easing troop movements, cutting the costs of transportation and providing an economic stimulus for the agricultural economy. In 1856 a teacher-training college (Kweekschool) was founded in the city, the first in Sumatra, as part of a policy to provide educational opportunities to the indigenous population.[4] A rail line connecting the city with Payakumbuh and Padang was constructed between 1891 and 1894.

During the Japanese occupation of Indonesia in World War II, the city was the headquarters for the Japanese 25th Army, the force which occupied Sumatra. The headquarters was moved to the city in April 1943 from Singapore, and remained until the Japanese surrender in August 1945.
Mosque in central Bukittinggi

During the Indonesian National Revolution, the city was the headquarters for the Emergency Government of the Republic of Indonesia (PDRI) from December 19, 1948 to July 13, 1949. During the second 'Police Action' Dutch forces invaded and occupied the city on December 22, 1948, having earlier bombed it in preparation. The city was surrendered to Republican officials in December 1949 after the Dutch government recognized Indonesian sovereignty.

The city was officially renamed Bukittinggi in 1949, replacing its colonial name. From 1950 until 1957, Bukittinggi was the capital city of a province called Central Sumatra, which encompassed West Sumatra, Riau and Jambi. In February 1958, during a revolt in Sumatra against the Indonesian government, rebels proclaimed the Revolutionary Government of the Republic of Indonesia (PRRI) in Bukittinggi. The Indonesian government had recaptured the town by May the same year.

A group of Muslim men had planned to bomb a cafe in the city frequented by foreign tourists in October 2007, but the plot was aborted due to the risk of killing Muslim individuals in the vicinity. Since 2008 the city administration has banned Valentine's Day and New Year's celebrations as they consider them not in line with Minangkabau traditions or Islam, and can lead to "immoral acts" such as young couples hugging, kissing and not to mention fornicating.

Bukittinggi

Diposting oleh Debby An Pratama S. di 02.36 0 komentar
Kota Bukittinggi adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

Kota ini sebelumnya disebut dengan Fort de Kock dan dahulunya pernah juga dijuluki sebagai Parijs van Sumatra selain kota Medan dan kota Bukittinggi juga pernah menjadi ibukota negara Indonesia.

Kota ini merupakan kota kelahiran salah seorang Proklamator RI yaitu Bung Hatta, disebut juga sebagai kota pusaka dengan Jam Gadang, yaitu sebuah landmark di ketinggian jantung kota, berbentuk jam besar mirip Big Ben, sekaligus menjadi simbol bagi kota yang juga berada pada tepi sebuah lembah yang bernama Ngarai Sianok.


Bukittinggi is one city in the province of West Sumatra, Indonesia.

The city was formerly called the Fort de Kock and the former had also dubbed as Parijs van in addition to the city of Medan and Sumatra town of Bukittinggi was also the capital of Indonesia.

The city is the hometown of one of the Bung Hatta proclaimed Indonesia, also known as city heritage with the Clock Tower, a landmark in the heart of the height, shaped like a big clock Big Ben, as well as a symbol for the city which is also located on the edge of a valley Sianok named Canyon.

Blog Baru

Diposting oleh Debby An Pratama S. di 02.12 0 komentar
Annyeong....
ini blog baru debby....

Minggu, 27 November 2011

tips penyelamatan laptop bila terkena air

Diposting oleh Debby An Pratama S. di 01.10 0 komentar
Mengingat Laptop sudah menjadi kebutuhan hampir semua orang, portable computer ini tidak lagi hanya digunakan kalangan IT, tetapi hampir semua kalangan, baik itu ibu rumah tangga, pelajar maupun anak-anak dibawah umur.

Situasi ini mempertinggi terjadinya kecelakaan pada saat pengoperasian laptop, bahkan seorang yang profesional pun tidak luput dari kecelakaan pemakaian pada saat kelelahan ataupun akibat terbaginya konsentrasi ke banyak hal dan akhirnya membuat pengguna lengah terhadap hal-hal yang membahayakan laptop.

Berdasarkan kasus yang sering ditemukan banyak kecelakaan pada laptop yang berakibatkan mati total atau korsleting diakibatkan laptop ketumpahan cairan seperti air, kopi, teh, kuah ataupun cairan lainnya.

Perlu kita ketahui bahwa cairan dapat menghantarkan listrik, sehingga pada saat laptop ketumpahan cairan, hubungan positif dan negatif bisa bersatu yang mengakibatkan short sehingga dapat merusak komponen disekitar korsleting terjadi.

Biasanya yang diserang adalah komponen power. Korsleting atau short hanya dapat terjadi pada saat komponen dialiri listik (dalam keadaan hidup) jadi kemungkinan terjadinya korsleting atau short pada saat laptop dalam keadaan mati sangat kecil sekali.


Berikut tindakan pertama yang harus dilakukan pada saat laptop ketumpahan cairan :

1. Lepaskan baterai dan jack power apabila laptop dalam keadaan hidup. Buka flip LCD sampai maksimal terbuka lalu posisikan laptop tertelungkup / terbalik. Biarkan beberapa jam atau lebih lama lebih baik. sehingga cairan yang sudah terlanjur masuk mengalir keluar.

2. Lepaskan keyboard, jemurlah keyboard ditempat yang tidak terlalu panas dalam keadaan terbalik. Jika cairan yang tumpah berupa kopi (yang lengket), kuas selah-selah keyboard dengan menggunakan air, namun jangan ditekan.

Kemudian jemurlah seperti cara diatas beberapa jam lalu blower dengan menggunakan kipas angin satu malam. Pada saat proses pengipasan tekan-tekanlah setiap tuts untuk menghindari adanya uap yang tertinggal pada fleksibel yang menyebabkan keyboard lengket.

3. Blower bagian laptop dalam posisi berdiri menyamping.dengan posisi fentilasi fan dibagian bawah untuk meyakinkan sisa-sisa cairan dapat keluar dari fentilasi tersebut.

Catatan : jika tumpahan terlalu banyak sebaiknya seluruh bagian laptop dibuka dan dikeringkan.jika Anda tidak yakin dapat melakukannya sendiri sebaiknya menghubungi service centre terdekat.

4. Pasang kembali semua bagian, tanpa mengunakan baterai, sambungkan listrik dari adapter, jangan langsung dihidupkan, perhatikan gejala-gejala yang timbul. Dekatkan penciuman Anda ke laptop, jika mencium sesuatu yang berbau hangus, lepaskan koneksi power.

Bblower kembali seperti tahapan diatas untuk beberapa waktu.semakin lama semakin baik. Kemudian ulangi tahapannya. Apabila sudah tidak ada indikasi bau ataupun hal hal yang mencurigakan, lepaskan hubungan listrik kemudian pasang baterai.

Lihat reaksinya, jika tidak ada indikasi yang mencurigakan, sambungkan listrik dan perhatikan Lead lampu baterai indikator menyala atau tidak, jika menyala hidupkan laptop Anda dan tetap memperhatikan bau atau indikasi lainnya untuk beberapa saat.

5. Jika ternyata masih ada indikasi yang mencurigakan (tidak seperti biasanya), sebaiknya menghubungi service centre terdekat untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.

kaos instan, di rebus jadi kaos

Diposting oleh Debby An Pratama S. di 01.03 0 komentar
Jepang memang terkenal sebagai gudang nya teknologi. Tidak lama ini, Jepang menciptakan kaos instan dengan teknologi mie instan (lho, kok kayak mi instan?). Kaos instan ini prinsipnya memang sama seperti mi instan lho.

Kaos ini aslinya berukuran sangat mini, tetapi begitu direndam di air, ukuran nya akan menjadi normal. Cocok sekali untuk dibawa berpergian, jadi tidak perlu lagi bawa-bawa tas besar.

Kamis, 17 November 2011

Benteng Fort de Kock

Diposting oleh Debby An Pratama S. di 17.24 0 komentar
Fort de Kock didirikan pada 1825 oleh Kapten Bauer di Jirek Gunung Luar, Bukit Tinggi. Sampai saat ini, Benteng Fort de Kock masih menjadi saksi bangga dari aturan kolonial Belanda pada waktu itu untuk orang Minangkabau dan angkuh masih tetap implisit dalam gedung 20 meter-tinggi dengan cat putih dan warna hijau ini.
Fort de Kock adalah dilengkapi dengan meriam kecil di empat penjuru. Kawasan sekitar benteng telah dipulihkan oleh pemerintah daerah menjadi sebuah taman dengan pohon-pohon rindang dan banyak mainan anak-anak.Benteng yang terletak di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukit Tinggi terletak di lokasi yang sama dengan Kebun Binatang Bukit Tinggi dan Museum Rumah Adat Baanjuang. Kawasan benteng terletak di atas bukit sebelah kiri area pintu masuk sementara kebun binatang dan museum rumah gadang berbentuk terletak di sebuah bukit di sebelah kanan.
Keduanya dihubungkan oleh sebuah jembatan Limpapeh yang di bawahnya adalah jalan raya di kota Bukit Tinggi. Memang daerah ini terletak hanya 1 km dari pusat kota Bukit Tinggi di daerah Clock Tower, tepatnya di saluran jalan Tuanku nan Renceh. Bukit Tinggi sendiri dapat ditempuh sekitar dua jam dari kota Padang sebagai ibukota provinsi Sumatera Barat.


 Dengan membayar retribusi sebesar Rp 5.000, melihat benteng, menyeberangi jembatan dengan pemandangan panorama, memeriksa berbagai satwa liar dan belajar sejarah di museum dapat dinikmati juga. Rumah Baanjuang Tradisional Khusus masuk, pengunjung harus membayar kembali biaya masuk sebesar Rp 1.000 per orang. Tempat ini sering digunakan sebagai piknik keluarga atau tujuan kelompok untuk TK dan siswa SD untuk mengetahui alam, sejarah dan budaya juga.
Sejumlah pengunjung bahkan tampak senang hanya menikmati keteduhan di sekitar Fort Fort de Kock setelah membaca penjelasan sedikit tentang sejarah benteng. Hal ini ditulis dalam sebuah piagam sekitar 10 meter di depan benteng yang ditandatangani oleh Walikota Bukit Tinggi H. Djufri ketika diresmikan sebagai tempat wisata pada tanggal 15 Maret 2003. Berikut sedikit penjelasan tentang Benteng Fort de Kock.
Fort de Kock didirikan oleh Kapten Bauer pada tahun 1825 di negara Jirek Gunung Bukit Tinggi sebagai benteng pemerintah Hindia Belanda dari orang-orang dalam menghadapi oposisi yang dipimpin oleh Perang Padri Tuanku Imam Bonjol.
Ketika Baron Hendrick Markus de Kock menjadi Komandan de Roepoen dan Wakil Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda. Dari lokasi ini adalah di mana nama menjadi Benteng Fort de Kock.
Bukit Tinggi udara dingin dapat membuat pengunjung yang datang ke lupa waktu. Terutama ketika melihat Ngarai Sianok kecantikan, Gunung Singgalang, Gunung Pasaman dan juga kota dari atas Jembatan Limpapeh Bukit Tinggi. Lalu terus berjalan untuk melihat hewan yang berbeda dan mampi sebentar di Rumah Tradisional Baanjuang untuk menambah sedikit wawasan tentang budaya Minangkabau.
Di dalam bangunan yang sengaja dibangun pada tahun 1930 oleh seorang Belanda, Mr Tersimpan Kontrolir berbagai benda khas Mandelar Minangkabau, seperti pakaian adat, tanduk kerbau dan peralatan nelayan tradisional. Di tempat ini, pengunjung juga dapat mengambil gambar di jembatan serta dengan pakaian tradisional Minang hanya dengan membayar Rp 2500-Rp 5000.
Benteng Fort de Kock arogansi juga tercatat dalam berbagai souvenir yang dijual di warung-warung di luar kawasan wisata, seperti T-shirt, gantungan kunci dan tas khas Minangkabau. Sayangnya tampaknya, jika rumah tanpa kenangan khusus tentang Benteng Fort de Kock.


Fort de Kock was founded in 1825 by Captain Bauer at the Mount Jirek Affairs, Bukit Tinggi. Until today, Fort Fort de Kock is still a proud witness of the Dutch colonial rule at that time to the Minangkabau and swagger still remains implicit in the 20-meter-high building with white paint and green colors of this.

Fort de Kock is equipped with a small cannon at the four corners. Regions around the fort has been restored by local governments into a garden with shady trees and lots of children's toys.
The fortress is located at the Wildlife Park and Cultural Kinantan Bukit Tinggi is located in the same location with the High Hill Zoo and the Museum of Traditional House Baanjuang. Regions fort situated on a hill left of the entrance area while the zoo and museums gadang shaped house is situated on a hill on the right.

Both are connected by a bridge Limpapeh beneath which is a highway in the town of Bukit Tinggi. Indeed this region is located only 1 km from the center of Bukit Tinggi in the Clock Tower area, precisely in the canal road Renceh Tuanku nan. Bukit Tinggi itself can be taken about two hours from the city of Padang as the capital of West Sumatra province.

By paying a levy of Rp 5,000, saw the castle, cross the bridge with panoramic views, examining a variety of wildlife and learn history at the museum can be enjoyed as well. Traditional House Special Baanjuang entering, visitors must pay back entrance fee of Rp 1,000 per person. This place is often used as a family picnic or group goals for kindergarten and elementary school students to know the nature, history and culture as well.

A number of visitors even seemed happy just enjoying the shade around Fort Fort de Kock after reading the little explanation about the history of the fortress. It is written in a charter of about 10 meters in front of the castle which was signed by Mayor H. Bukit Tinggi Djufri when inaugurated as a tourist place on March 15, 2003. Here's a little explanation about the Fort Fort de Kock.

Fort de Kock was founded by Captain Bauer at the year 1825 at the Mount Jirek Bukit Tinggi country as the Netherlands East Indies government fortifications of the people in the face of opposition led by the Padri War Tuanku Imam Bonjol.

When the Baron Hendrick Mark de Kock became Commandant de Roepoen and Deputy Governor General of the Government of the Netherlands East Indies. From this location is where the name became Fort Fort de Kock.

Bukit Tinggi cool air can make the visitors who come to forget time. Especially when looking at the beauty Sianok Gorge, Mount Singgalang, Mount Pasaman and also the city from the top of Bukit Tinggi Limpapeh Bridge. Then keep walking to see different animals and mampi briefly in the House of Traditional Baanjuang to add a little insight about the culture of the Minangkabau.

In the building is deliberately built in 1930 by a Dutchman, Mr. Saved Controleur Mandelar various typical Minangkabau objects, such as custom clothing, buffalo horn and traditional fishing equipment. In this place, visitors can also take pictures on the bridge as well as with traditional outfit Minang only by paying USD 2500-USD 5000.

Fort Fort de Kock arrogance also recorded in a variety of souvenirs that were sold in stalls outside the tourist areas, such as T-shirts, keychains and bags distinctive Minangkabau. Unfortunately it seems, if the home without any special memories about the Fort Fort de Kock.

Selasa, 15 November 2011

history of Bukittinggi

Diposting oleh Debby An Pratama S. di 02.46 0 komentar
Kota ini memiliki asal-usul di lima desa yang berfungsi sebagai dasar untuk pasar.
Kota ini dikenal sebagai Fort de Kock pada zaman kolonial dalam referensi ke pos Belanda didirikan di sini pada 1825 selama Perang Padri. Benteng ini didirikan oleh Kapten Bauer di puncak bukit Jirek dan kemudian dinamai kemudian Letnan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda, Hendrik Merkus de Kock. Jalan pertama yang menghubungkan daerah dengan pantai barat dibangun antara 1833 dan 1841 melalui Gorge Anai, mengurangi pergerakan pasukan, memotong biaya transportasi dan memberikan stimulus ekonomi bagi perekonomian pertanian. Pada tahun 1856 sebuah perguruan tinggi pelatihan guru (Kweekschool) didirikan di kota, yang pertama di Sumatera, sebagai bagian dari kebijakan untuk memberikan kesempatan pendidikan bagi penduduk pribumi [4]. Sebuah jalur rel yang menghubungkan kota dengan Payakumbuh dan Padang dibangun antara 1891 dan 1894.
Selama pendudukan Jepang di Indonesia dalam Perang Dunia II, kota itu merupakan kantor pusat untuk Angkatan Darat Jepang ke-25, kekuatan yang diduduki Sumatera. Kantor pusat dipindahkan ke kota pada bulan April 1943 dari Singapura, dan tetap sampai Jepang menyerah pada Agustus 1945.Masjid di pusat kota Bukittinggi
Selama Revolusi Nasional Indonesia, kota itu merupakan kantor pusat untuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dari 19 Desember 1948 untuk 13 Juli 1949. Selama pasukan Belanda 'Polisi Aksi' kedua menyerang dan menduduki kota itu pada tanggal 22 Desember 1948, setelah sebelumnya dibom dalam persiapan. Kota itu menyerah kepada pejabat Republik pada Desember 1949 setelah pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.
Kota ini secara resmi berganti nama Bukittinggi pada tahun 1949, menggantikan nama kolonialnya. Dari 1950 sampai 1957, Bukittinggi adalah ibu kota dari provinsi disebut Sumatera Tengah, yang meliputi Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Pada bulan Februari 1958, selama pemberontakan di Sumatera melawan pemerintah Indonesia, pemberontak memproklamirkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Bukittinggi. Pemerintah Indonesia telah merebut kembali kota pada Mei tahun yang sama.
Sekelompok pria Muslim telah merencanakan untuk membom sebuah kafe di kota yang sering dikunjungi oleh wisatawan asing pada Oktober 2007, namun rencana itu dibatalkan karena risiko membunuh individu-individu Muslim di sekitarnya. Sejak 2008, pemerintah kota telah melarang Hari Valentine dan perayaan Tahun Baru karena mereka menganggap mereka tidak sejalan dengan tradisi Minangkabau atau Islam, dan dapat menyebabkan "tindakan tidak bermoral" seperti pasangan muda berpelukan, berciuman dan belum lagi berzina.






The city has its origins in five villages which served as the basis for a marketplace.

The city was known as Fort de Kock during colonial times in reference to the Dutch outpost established here in 1825 during the Padri War. The fort was founded by Captain Bauer at the top of Jirek hill and later named after the then Lieutenant Governor-General of the Dutch East Indies, Hendrik Merkus de Kock. The first road connecting the region with the west coast was built between 1833 and 1841 via the Anai Gorge, easing troop movements, cutting the costs of transportation and providing an economic stimulus for the agricultural economy. In 1856 a teacher-training college (Kweekschool) was founded in the city, the first in Sumatra, as part of a policy to provide educational opportunities to the indigenous population.[4] A rail line connecting the city with Payakumbuh and Padang was constructed between 1891 and 1894.

During the Japanese occupation of Indonesia in World War II, the city was the headquarters for the Japanese 25th Army, the force which occupied Sumatra. The headquarters was moved to the city in April 1943 from Singapore, and remained until the Japanese surrender in August 1945.
Mosque in central Bukittinggi

During the Indonesian National Revolution, the city was the headquarters for the Emergency Government of the Republic of Indonesia (PDRI) from December 19, 1948 to July 13, 1949. During the second 'Police Action' Dutch forces invaded and occupied the city on December 22, 1948, having earlier bombed it in preparation. The city was surrendered to Republican officials in December 1949 after the Dutch government recognized Indonesian sovereignty.

The city was officially renamed Bukittinggi in 1949, replacing its colonial name. From 1950 until 1957, Bukittinggi was the capital city of a province called Central Sumatra, which encompassed West Sumatra, Riau and Jambi. In February 1958, during a revolt in Sumatra against the Indonesian government, rebels proclaimed the Revolutionary Government of the Republic of Indonesia (PRRI) in Bukittinggi. The Indonesian government had recaptured the town by May the same year.

A group of Muslim men had planned to bomb a cafe in the city frequented by foreign tourists in October 2007, but the plot was aborted due to the risk of killing Muslim individuals in the vicinity. Since 2008 the city administration has banned Valentine's Day and New Year's celebrations as they consider them not in line with Minangkabau traditions or Islam, and can lead to "immoral acts" such as young couples hugging, kissing and not to mention fornicating.

Bukittinggi

Diposting oleh Debby An Pratama S. di 02.36 0 komentar
Kota Bukittinggi adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

Kota ini sebelumnya disebut dengan Fort de Kock dan dahulunya pernah juga dijuluki sebagai Parijs van Sumatra selain kota Medan dan kota Bukittinggi juga pernah menjadi ibukota negara Indonesia.

Kota ini merupakan kota kelahiran salah seorang Proklamator RI yaitu Bung Hatta, disebut juga sebagai kota pusaka dengan Jam Gadang, yaitu sebuah landmark di ketinggian jantung kota, berbentuk jam besar mirip Big Ben, sekaligus menjadi simbol bagi kota yang juga berada pada tepi sebuah lembah yang bernama Ngarai Sianok.


Bukittinggi is one city in the province of West Sumatra, Indonesia.

The city was formerly called the Fort de Kock and the former had also dubbed as Parijs van in addition to the city of Medan and Sumatra town of Bukittinggi was also the capital of Indonesia.

The city is the hometown of one of the Bung Hatta proclaimed Indonesia, also known as city heritage with the Clock Tower, a landmark in the heart of the height, shaped like a big clock Big Ben, as well as a symbol for the city which is also located on the edge of a valley Sianok named Canyon.

Blog Baru

Diposting oleh Debby An Pratama S. di 02.12 0 komentar
Annyeong....
ini blog baru debby....
 

Debby Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting